Puasa Di Bulan Ramadhan[1]

Seseorang akan membayangkan Puasa ketika kata Ramadhan didengungkan.’’ Ramadhan ‘’, telah identik dengan bulan, di mana seorang muslim diwajibkan berpuasa satu bulan penuh, namun sejauh mana sebenarnya hakikat Puasa yang telah kita resapi? Apakah kita hanya diwajibkan menahan haus dan lapar sehari penuh, kemudian makan dan minum sepuasnya saat berbuka?, apapula yang mendasari diwajibkanya Puasa di bulan Ramadhan?. Pertanyaan yang sangat sederhana, namun butuh pemahaan yang lurus dalam memahami hakikat Puasa, terlebih Puasa di bulan Ramadhan yang kita  jalani setiap tahunya.

  • Makna Puasa

Puasa merupakan ibadah yang sudah dilakukan sejak zaman Nabi Adam As—seperti apa yang dikatakan sahabat Ali Ra di dalam sebuah riwayat yang disandarkan pada beliau—yang berlanjut hingga saat ini. Puasa adalah ibadah yang sudah ada sejak Allah SWT menciptakan manusia untuk menghuni alam semesta. Tujuan dari Puasa adalah untuk menjaga manusia dalam ketakwaan kepada Allah dan menjauhkanya dari segala bentuk amal perbuatan yang tidak terpuji, sebagaimana firman Allah SWT :

يأيٌهااليذين أمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتٌقون

( S. Al baqarah : 183 )

Allah mewajibkan Puasa seperti halnya mewajibkan Syahadat, Shalat, Zakat dan Haji, sebagaimana hadis Nabi SAW :

بني لإسلام على خمس شهادة أن لا اله إلا الله و أن محمدا الرسول الله و إقام الصلاة وإيتاء الزكاة و صوم رمضان و الحج

( HR. Bukhari-Muslim )

Puasa secara bahasa berarti menahan, adapun makna Puasa menurut istilah adalah menahan segala hal yang membatalkan Puasa; makan, minum, bergaul dengan isteri di siang hari puasa, atau merusak Puasa; menggunjing, memfitnah, berdusta, maksiat, juga dengan disertai niat berpuasa dari mulai terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari.

Jika kita memahami hakikat Puasa dan melaksanakanya dengan benar, maka kita termasuk golongan orang yang benar-benar beruntung di dunia dan di akhirat kelak. Nabi SAW bersabda :

يقول الله تبارك و تعالى كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي و أنا أجزى به

( Muttafaq ‘laih )

Di zaman ini, Puasa merupakan sarana yang tepat bagi umat Islam untuk kembali menemukan jati dirinya sebagai umat yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, moral dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Islam telah berkembang selama berabad-abad dengan jumlah pemeluk yang terus meningkat tajam, namun ajaran inti dan sederhana yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW berupa tauhid, etika, dan kepekaan sosial, tergerus oleh kepentingan-kepentingan golongan yang mengesampingkan nila-nilai keislaman itu sendiri, entah itu kepentingan politik; agama dijual hanya untuk meningkatkan pamor golongan atau partai; atau bahkan mengeliminasi esensi pemahaman agama yang berbenturan dengan visi dan misi golongan mereka. Hal-hal semacam ini muncul akibat kurangnya umat Islam dalam memahami hakikat ibadah yang melatih umat untuk tetap ‘’istiqomah’’ dalam menjalankan ajaran Nabi Muhammad SAW. Puasa Ramadhan merupakan alternatif bagi kita umat Islam untuk membenahi itu semua. Puasa bukan hanya untuk mencari pahala Allah SWT semata, namun jauh dari itu, terdapat kesempatan pada masing-masing diri kita untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membersihkan hal-hal buruk yang menodai hati kita, karena sejatinya, hati akan mengatakan kepada kita mengenai baik dan buruknya suatu hal dengan sejujur-jujurnya, sebagaimana firman Allah SWT :

فتكون لهم قلوب يعقلون. ( الأية )

bahkan oleh hati yang sangat kotor sekalipun, terkecuali jika Allah menghendaki untuk mengunci hati seseorang. Allah SWT berfirman :

أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها. ( الأية )

  • Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan sejatinya telah diwajibkan oleh Allah SWT sejak zaman Nabi Musa dan Nabi Isa As; dalam konteks wajib, bukan mengenai tata cara pelaksanaanya, namun adapula riwayat yang mengatakan bahwa Puasa Ramadhan diwajibkan sejak zaman Nabi Nuh As setelah mereka keluar dari kapal yang menyelamatkan mereka dari bencana banjir mahadahsyat saat itu, wallahu a’lam. Ramadhan sendiri berasal dari kata ramdhaa yang berarti panas yang sangat menyengat, sebuah riwayat lain mengatakan bahwa orang zaman dahulu menamai bulan-bulan mereka berdasarkan dengan kondisi cuaca  sebuah tempat yang mereka singgahi, itu pula yang mendasari mereka menamai bulan Ramadhan, karena pada saat itu mereka sedang menyinggahi tempat yang sangat panas atau yang dalam bahasa arab disebut dengan ramdhaa. Adapun sumber-sumber lain masih dalam satu makna dari kedua sumber yang telah disebutkan sebelumnya.

Allah SWT telah mengistemawakan bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan yang lain dengan menurunkan Alquran di dalamnya, melipat gandakan segala amal dan perbuatan sebagai ganjaran dari Allah SWT, di bulan itu juga Allah SWT membukakan pintu surga dan menutup pintu neraka, Nabi SAW bersabda :

إذا جاء رمضان فتٌحت أبواب الجنة و غلٌقت أبواب النار و صفٌدت الشٌياطين

(HR. Muslim, Nasai, Ahmad )

Tentunya kita juga akan mengingat malam lailatul qadar, suatu malam dimana kitab tervalid di dunia yaitu Alquran diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW di bumi, sebagaimana firman Allah SWT :

 

إنٌا أنزلناه فى ليلة مباركة إنٌا كنٌا منذرين.

( S. Addukhan :3 )

Allah SWT juga menegaskan bahwa malam lailatul qadar lebih utama dibandingkan dengan seribu bulan, di saat itu pula para Malaikat dan ruh turun ke bumi hingga fajar datang, sebagaimana  firman-Nya :

إنٌا أنزلناه فى ليلة القدر. وما أدرآك ما ليلة القدر.ليلة القدر خير من ألف شهر.تنزٌل الملآئكة والرٌوح فيها بإذن ربٌهم من كلٌ أمر سلام هي مطلعالفجر.

( S. Alqadar :1-5 )

Adapun Puasa merupakan ibadah yang sangat mulia di sisi Allah SWT, sebagaimana hadis yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa Allah sendirilah yang akan langsung membalas pahala orang yang berpuasa, karena hakikat Puasa adalah ibadah persembahan untuk Mahadiraja Tuhan Semesta Alam. Karena keistimewaan itu pula, Puasa diwajibkan di bulan Ramadhan, bulan yang sangat istimewa dan diisi oleh ibadah yang juga istimewa. Lengkaplah sudah ganjaran yang diberikan oleh Allah di bulan Ramadhan untuk para hambanya yang taat, sebuah bulan yang seharusnya mampu untuk membentuk seorang pribadi muslim berdinamika dalam kehidupan sehari-hari selaras dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW. Semoga kita termasuk hamba yang mampu mengambil hadiah pahala di bulan Ramadhan dan memaksimalkan pemahamaan hakikat tentang ibadah Puasa, sehingga kita termasuk orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Aameen yaa rabbal ‘alamin.


[1] Oleh : Attabik Hasan Ma’ruf.