Banyak Jalan Menuju Tuhan[i]

Berbicara tentang Tuhan –terkait masalah keyakinan mengenai eksistensi Tuhan, ada beberapa hal yang perlu  digaris bawahi;  peranan keyakinan dalam kehidupan bukan semata ketika dalam masa ibadah, melainkan lebih kepada bercampurnya aspek ketuhanan dalam semua sendi kehiupan. Ketika seseorang sedang dalam masalah, maka ia akan kembali kepada rasa ingin bercurah hati untuk meringankan beban yang ia hadapi. Ini sepertinya sudah menjadi sifat dasar bagi manusia. Ia akan selalu merasa kesepian –kenyataanya berada dalam keramaian—ketika  masalah menimpanya. Disaat semua orang tidak respek terhadap keadaan kita, seperti inilah manusia akan merasa membutuhkan Tuhanya untuk menjadi teman sejati. Tuhan selalu ada untuk kita, bagaimanapun perasaan kita terhadapnya, Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik untuk kita.  

Kita sangat beruntung menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad SAW, dengan sampainya Risalah Beliau di zaman ini, kita tidak butuh cara yang rumit untuk mencari eksistensi Tuhan. Ini merupakan sesuatu hal yang mestinya harus amat kita syukuri. Tentunya kita ingat beberapa kisah dalam Alquran mengenai dialog antara makhluk-makhluk—Nabi dan Malaikat Allah—dengan Tuhan. Terbesit dalam benak kita adanya sedikit keraguan di antara makhluk-makhluk tersebut untuk meyakini apa yang Tuhan kehendaki; Seperti Nabi Ibrahim AS, yang menginginkan agar Tuhan memperlihatkan kepadanya bagaimana cara Tuhan menghidupkan sesuatu yang mati; ataupun Mailaikat yang meragukan keinginan Tuhan untuk menjadikan manusia mengkondisikan Planet Bumi yang berada dalam lingkaran galaksi Bima Sakti. Dalam hal ini, tidak ada maksud untuk mengukur keimanan para makhluk Tuhan di atas, namun sekedar memperjelas tentang teori Islam—Risalah Nabi Mumammad SAW dalam mengimani Tuhan—yang dikehendaki Tuhan sebagai penyempurna sekaligus penutup untuk semua Risalah  yang ada di muka Bumi.

Dari hal di atas, jelas terpikir oleh kita bahwa Tuhan menginginkan agar manusia—makhluk yang diciptakan untuk memimpin Bumi—mengikuti apa yang diinginkan oleh-Nya. Manusia dengan beberapa kelebihan yang Tuhan berikan kepadanya seharusnya sadar akan perhatian dan kasih sayang Tuhan pada mereka. Ada dua hal penting yang ada dalam diri manusia yaitu akal dan naluri. Keduanya merupakan keistimewaan pada diri manusia yang diberikan oleh Tuhan, bahkan mungkin dua hal terpenting untuk dijadikan dasar memimpin Bumi. Namun apakah manusia akan berhasil hanya dengan akal dan nurani?; Ataukah ada hal lain untuk menjadikan dua hal tersebut berjalan dalam diri manusia sesuai dengan kehendak Tuhan?; mustahil kiranya manusia akan berjumpa dengan Tuhan-nya dengan hanya berbekal akal dan nurani.

Keimanan merupakan kunci utama manusia untuk bisa merasakan eksistensi Tuhan. Dengan beriman, manusia akan mengetahui cara menggunakan akal dan naluri, sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan.

Dalam Alquran, keimanan disebut pertama kali untuk menggambarkan orang-orang yang dicintai Tuhan sebelum hal lain. Hal ini menunjukan bahwa Islam; dengan Alquran sebagai Kitab sucinya, adalah  Agama yang sempurna untuk dijadikan sumber mengenal Tuhan.

• Jalan  Untuk Mengenal Tuhan.

Kita sebagai Umat Islam tentu mempunyai cara tersendiri untuk bisa merasakan kehadiran Tuhan. Allah SWT berfirman :

يآيُها اَللذين آمنوا اتّقوا الله وابتغوا إليه الوسيلة وجهدوا في سبيله لعلكم تفلحون

(سورة المائدة :35)

Allah SWT, memberikan jalan seluas luasnya kepada manusia—umat Islam—agar bisa mengenal Tuhanya. Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan manusia yang beriman agar bertaqwa kepada-Nya dan mencari jalan untuk bisa mengenal diri-Nya, serta benar-benar melaksanakan apa yang sudah menjadi ketetapan-Nya.

Jika kita melihat Islam di masa lampau, kita akan mendapati beberapa Tokoh besar Islam baik dari generasi Sahabat, Tabi’in, maupun setelahnya yang mempunyai cara tersendiri untuk bisa merasakan kehadiran Tuhan. Seperti Khulafa Urrasyidin—dengan posisi sebagai orang yang memimpin seluruh Umat Islam, mereka tetap berusaha untuk mendekat kepada Allah dengan berbagai cara seperti; berpolitik, berperang, berdagang, mengatur Umat Islam seperti yang diwasiatkan Nabi kepada mereka dan hal-hal lain yang sifatnya adalah taqorruban ila Allah—, Amir Ibn Abdullah Ibn Qis, Haram Ibn Hayan, Al ahnaf Ibn Qis, Shilah Ibn Asyim, Hasan Albashri—Ulama-ulama di Kuffah masa Tabi’in; sebagian dari mereka melakukan hal-hal yang sifatnya diluar kebiasaan manusia, hanya untuk mendekat kepada Allah; Hasan Albasri merupakan Ulama yang sangat masyhur dimasa itu dan ‘’jalan pencarian Tuhanya’’ dijadikan rujukan ulama setelahnya, Imam al madzahib al arba’ah; Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad Bin Hanbal; Imam Abu Al hasan Al asy’ari dan Imam Abu Mansur Al maturidi—pendobrak ideologi ushuli Mu’tazilah. Dengan relevansi konsep aqidah yang oleh sebagian besar Ulama sesudahnya dianggap paling mendekati makna, dari konsep Ahlu As sunnah wa Al jama’ah yang dimaksud oleh Nabi; Imam Al ghazali dan Ulama-ulama lainya diseluruh penjuru Dunia yang hidup setelahnya.

Umat Islam mengenal Tasawwuf—terlepas dari perdebatanya sebagai sebuah disiplin ilmu pengetuhuan Islam; juga mengenai perdebatan golongan yang tidak sependapat mengenai eksistensinya sebagai disiplin ilmu yang akan mengantarkan seorang muslim untuk menuju Tuhanya. Dalam Tasawuf diajarkan banyak mengenai hal-hal yang dianggap biasa oleh orang pada umumnya, sebagai sesuatu yang bernilai ibadah baginya. Di dalamnya terdapat hikmah-hikmah kehidupan yang akan mendekatkan seorang muslim kepada Tuhanya, tentunya dengan seorang Syeikh, yang akan menjadi penuntun bagi para murid yang hendak mendekatkan diri kepada Allah SWT. Inti dari ajaran Tasawuf adalah untuk mensucikan hati seseorang agar terhindar dari hal-hal yang akan membuat dirinya jauh dari mengingat Tuhanya, sehingga hatinya akan menterjemahkan semua yang diketahuinya dengan benar, sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah SWT, sebagaimana sabda Nabi SAW :

إذا صلحت القلوب فصلحت الجساد كلها وإذا فسدت القلوب فسدت الجساد كلها ( الحديث )

Alquran sebagai sumber utama Umat Islam juga tidak dapat diresapi dengan hati yang tekunci dalam kegelapan, sebagaimana firman Allah :

أفلا يتدبٌرون القرأن أم على قلوب أقفا لها ( الأية)

Dewasa ini, muncul beberapa aliran di dalam Umat Islam yang mempersempit makna ibadah kepada Allah SWT. Mereka justru cenderung membatasi ibadah agar terhindar dari hal-hal yang mereka anggap sebagai bid’ah dlolalah ; sesuatu yang baru dalam ibadah dan tidak ada di zaman Nabi sekaligus menyesatkan. Padahal Allah membukakan jalan kepada kita untuk beribadah kepada-Nya dengan berbagai macam ibadah yang bersumber dari Alquran dan Hadis yang sangat beragam. Timbul pertanyaan dalam benak kita, apa yang sebenarnya terjadi pada diri mereka? apakah karena fanatisme yang terlampau sangat sehingga membuat mereka terlihat berpikiran kerdil, ataukah karena ada motif lain di balik itu semua? Wallahu a’lam. Alangkah indahnya apabila kita semua saling mengenal dan menghargai antar sesama yang beraneka macam jenis dan sifatnya, hal itu sebagai sarana penopang kita dalam beribadah kepada Allah, tanpa harus mengklaim kebenaran satu kelompok dan menghakimi kelompok yang lain, sebagaimana firman Allah SWT :

ياأيٌها الناس إتقوا ربكم الذي خلقكم من ذكروأنثى و جعلناكم شعوبا و قبائلا لتعارفوا إنٌ أكرمكم عند الله أتقاكم ( ألأية )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[i] Oleh:  Attabik Hasan Ma’ruf.