Beberapa menit telah kulewati dalam umurku yang kedua satu. Sudah dua tahun aku merayakan ulang tahun di Mesir. Lebih tepatnya melewati karena aku memperingati ulang tahunku hanya beberapa kali saja. Masih teringat jelas bagaimana kakak-kakakku membentangkan kertas warna-warni di depan ruang tamu dimana sekarang telah berubah menjadi ruang makan. Aku diminta oleh mereka untuk memotong kertas-kertas itu kemudian disuruh memasuki ruangan yang telah penuh dengan hiasan balon lengkap dengan pernak-pernik ulang tahun lainya. Akupun masih ingat betul bagaimana acara setelah itu adalah makan roti yang telah dipersiapkan oleh mereka. Ya! Roti ulang tahun, seingat saya itu adalah ulang tahunku yang ke tujuh. Terus terang perasaanku saat itu terlalu biasa untuk dibilang bahagia. Mungkin hanya sedikit grogi karena ada beberapa saudaraku dan santrinya ‘’simbah’’ yang ikut merayakanya. Bagiku itu merupakan kado terindah hidupku yang pernah aku terima. Kado kehangatan kasih sayang yang diberikan oleh kakak-kakakku. Acara malam itu dilanjutkan doa bersama untuk keselamatan aku. Satu yang menjadi pertanyaanku saat itu adalah apa motif mereka merayakan ulang tahunku. Apakah mereka ingin memberikan sesuatu yang berkesan untuk aku kenang dikehidupanku kelak atau hanya sebatas ingin membuat sensasi.
Namun semuanya terjawab sudah ketika umurku masuk diusia yang kedua belas. Inilah dimana aku merasakan sesuatu yang sangat luar biasa. Aku merasa hari ulang tahunku diperingati oleh hampir semua umat islam di Indonesia bahkan dunia. Hari ulang tahunku saat itu bertepatan dengan hari raya idul fitri. Itu akan aku kenang selalu Selama hidupku. Ditahun yang spesial ini lagi-lagi kakakku memberikan kado yang tak terduga olehku. Saat itu malam takbiran dan semua orang ribut untuk mempersiapkan hari yang fitri. Gema takbir menggema hampir di seluruh masjid di desaku. Hatiku benar-benar mendayu biru dengan suasana itu. Ketika semua orang rumah sedang beristirahat, kusempatkan untuk keluar melihat langit yang seolah-olah sedang berbicara kepadaku. Diriku termenung sejenak memandangi langit yang yang sangat cerah malam itu. Kugantungkan semua asa dan cita-citaku dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi. Aku merasa malam itu adalah salah-satu malam yang sangat istemewa dalam hidupku. Malam semakin larut membuatku memetuskan berhenti berkencan dengan panorama malam takbiran yang sangat mempesona waktu itu.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulanpun berganti tahun, kini usiaku menginjak 21 tahun aku bukanlah anak-anak lagi yang hanya bisa merepotkan orang tua. Jasadku sekarang berada di Mesir dengan tujuan mencari ilmu untuk bekal dihari esok. Aku ingin selalu berada disamping keluarga tercinta selama hidupku. Tapi itu tak mungkin karena hidup memerlukan perjuangan untuk menjadi lebih baik. Aku telah rela mengorbankan raga dan jiwaku untuk hidup yang lebih berguna bagi orang lain dihari esok. Kini aku hanya bisa berharap semoga allah SWT memberikan yang terbaik buat diriku serta membuat diriku berguna bagi agama, negara, nusa dan bangsa. Terakhir kuucapkan terimakasih kepada semua orang yang telah berbuat baik kepadaku, aku khususkan terimakasihku untuk kedua orang tuaku yang telah memberikan semua yang mereka punya untuk diriku berupa doa yang sangat tulus, kasih sayang yang tiada tara dan materi yang melimpah ruah, kepada kedua kakakku yang selalu mendukungku disaat sedih, gembira, putus asa dan kurang motivasi. Saudara-saudaraku, dan semua teman-temanku dari mulai TK sampai kuliah. Semoga amal baik kalian diterima disisinya amin.


[1] Aku tulis ini pada Kamis 16 Desember 2010 jam 01.30 waktu kairoTepat satu setengah jam aku berulang tahun yang ke 21.,.( ulang tahun yang kedua di Mesir ).Attabik Hasan Ma’ruf.