SEJARAH SINGKAT ILMU TAUHID DAN ALIRAN-ALIRAN YANG BERPENGARUH DALAM  ISLAM[1]

Al quran telah menjelaskan kepada pemeluknya untuk beriman kepada allah, malaikat,   kitab-kitab,   rasul-rasulnya dan hari akhir. Semua itu dijelaskan dengan jelas dan pasti sebagai tujuan untuk membentuk pribadi manusia yang berakhlakul karimah dengan dilandasi iman dan takwa kepada allah SWT sekaligus sebagai batasan manusia agar tidak terjebak dalam ruang pemikran tentang tuhan yang seharusnya tidak dijamah oleh akal, seperti sabda nabi SAW :

تفكروا فى الخلق و لا تفكروا الخالق فانه لا تحيط به الفكرة

Dan tidak perlu kiranya kita memperpanjang debat mengenai hal ini karena hanya akan memunculkan konflik semu dalam tubuh umat islam, bagi mereka yang ingin  dan mampu untuk membahas masalah ini tidak masalah asalkan masih dalam koridor agama tauhid dan bertujuan untuk  mengetengahkan sebuah pendapat bahwa tuhan itu ada dan satu, tidak untuk memperdebatkan tentang ada dan tidaknya tuhan, karena jika itu yang dikaji maka dia telah syirik karena hanya DIAlah yang tahu tentang diriNYA.

Adapaun nabi Muhammad SAW menyampaikan apa yang telah diwahyukan kepadanya tentang akidah islam, menyampaikan apa  yang masih global dalam ayat-ayat tersebut, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepadanya dari para mukminin pada zamanya untuk mengetahui lebih dalam makna kandungan risalah beliau SAW.

Umat islam pada zaman Abu bakar ra merupakan umat yang menjunjug tinggi persatuan, jarang sekali muncul masalah pada masa itu walaupun ada beberapa masalah yang muncul seperti pembrontak mengenai pembayaran zakat, itupun tidak berlangsung lama karena sang khalifah segera tanggap dengan hal ini , keadaan yang relatif kondusif pada saat itu  berlangsung cukup lama sampai ketika Abu bakar ra dipanggil oleh sang  khlalik. Pada fase selanjutnnya jabatan khalifah dipangku oleh Umar bin khottob ra. Pada masa ini islam melakukan ekspansi teritorial yang signifikan hingga meliputi wilayah timur dan barat. Dengan perkembangan yang begitu pesatnya, musuh-musuh umat islam dari kaum Yahudi, Nasrani dan Imperium Romawi berusaha untuk membunuh khalifah Umar bin khattab ra, berawal dari itu umat islam mulai terpecah maka masuklah fitnah kedalam umat islam. Setelah wafatnya khalifah Umar bin khattab ra, jabatan prestisius tersebut dilimpahkan kepada sahabat Ustman bin affan ra. Tidak berselang lama setelah wafatnya khalifah ustman pada tahun 35 H pecahlah perang Jamal pada tahun 36 H dan perang Shiffin tepat satu tahun setelah tragedi Jamal. Dimulai ketika khalifah Ali binabi thalib ra lengser dari jabatan khalifah, munculah aliran dalam islam untuk pertama kalinya yaitu kelompok Syiah, mereka berpendapat kalau merekalah yang paling berhak memangku jabatan khalifah setelah Ali ra wafat. Bersamaan dengan itu muncul pula golongan lain yaitu Khawarij yang merupakan pendukung Muawiyah. Sebenarnya  masih ada satu lagi aliran yang muncul pada saat itu yakni Ahlussunnah wal jama’ah tetapi yang mempunyai pengaruh paling besar dalam pecahnya islam menjadi beberapa golongan adalah dua kelompok tadi yaitu Syiah dan Khawarij sedang Ahlussunnah tetap terjaga dalam posisi netralnya. Karena Khawarij pula muncul aliran Murjiah yang menghendaki hukuman terhadap golongan pembangkang langsung dari allah SWT. Khalifah Muawiyah menghedaki kalau penetapan dirinya menjadi khalifah merupakan kehendak dari allah SWT dan bukan bagian dari rencana politiknya.  Munculah golongan yang menentang pendapat Muawiyah yaitu Al jabbar yang mengatakan khalifah harus dipilh dari beberapa kader aliran diatas yaitu Syiah, Khawarij dan Ahlussunnah.

Setelah melewati masa-masa perpecahan awal tersebut, munculah beberapa aliran yang tidak menghendaki kemaslahatan dalam islam, mereka mengeluarkan pendapat-pendapat yang merusak akidah umat islam, terlebih setelah islam memperluas wilayah teritorialnya, masuklah dalam islam budaya-budaya yang tidak sesuai dengan ajaran alquran  dan hadis nabi SAW dan saling beradu pendapat satu sama lain. Adapun salah satu inti perdebatanya adalah mengenai sifat-sifat allah SWT. Banyak sekali ayat alquran dan hadis yang membicarakn mengenai hal ini, begitu juga ayat dan hadis yang membicarakan tentang penolakan dzat allah mengenai hal ini, adapun golongan yang benar akidahnya mengesampingkan ayat dan hadis tentang penolakan dzat allah SWT dari sifat-sifatnya dan mereka mengimani ayat dan hadis yang membicarakan sifat-sifat allah SWT sedangkan golongan yang telah melenceng akidahya mereka menyerupakan dzat allah SWT dengan dzat yang lain atau menyerupakan sifat-sifat allah SWT dengan sifat makhluknya, golongan terakhir ini  dikenal dengan nama Al musyabbihah.

Dengan semakin gencarnya golongan-golongan yang muncul dengan menyerupakan allah SWT dengan sesuka hatinya maka ulama-ulama pada saat itu beusaha untuk menjaga kemurnian akidah islam, salah satunya adalah imam Hasan Basri (21-110H). Pada suatu ketika, saat dia sedang mengajarkan kepada para muridnya mengenai sifat allah SWT beliau mengatakan kepada  para muridnya bahwa golongan yang menyerupakan allah SWT dengan makhluknya agar sebaiknya dihindari dan dicegah, mereka itulah orang yang disebut dengan golongan Al khasywiyah (pada saat itu golongan ini berada dipinggir masjid tempat Hasa Basri mengajar dan disebut oleh beliau denga kata khasyal khalaqoh). Salah satu muridnya yang bernama Washil bin ‘atho’(80-131H) meninggalkan majelisnya karena sang murid tidak sepaham dengan pendapat gurunya mengenai hukuman bagi pelaku dosa besar, kelompok yang mengikuti Washil dikenal dengan sebutan aliran Mu’tazilah (berawal dari ucapan imam Hasan Basri  kepada para muridnya i’tazala ‘anna Washil) . Mu’tazilah sendiri merupakan aliran yan sangat getol mempertahankan akidah islam dari serangan yang dilancarkan oleh musuh-musuh islam yahudi dan nasrani dan semua agama yang mengingikan kehancuran islam. Syiah sendiri mempelajari mantiq untuk membentengi mereka dari musuh sekaligus mempelajari falsafah yunani kuno dan menggabungkanya dengan ilmu yang sebelumya mereka kuasai (aqidah islam murni). Kelompok mu’tazilah menguasi dunia keilmuan islam hingga ratusan tahun lamanya tetapi para ulama dari pakar hadis dan fikih tidak tinggal diam dengan hegemoni mu’tazilah saat itu. Mereka yang memang benar-benar merupakan garda terdepan pemimpin warisan nabi SAW menolak manhaj ‘aqlinya mu’tazilah dan pentakwilan mereka terhadap beberapa nas alquran. Salah satu dari mereka  adalah imam Ahmad bin hanbal ra yang meninggal sekitar tahun 241 H. Sebagian pemikir setelahnya bahkan menganggap mu’tazilah sebagai pelopor ide berfikir bebas dalam islam (meletakan akal diatas teks). Dan pada kenyataanya Mu’tazilah dengan manhaj akalny  bertolak belakang dengan teks alquran. Salah satunya dalam beberapa hal yang memang bersinggungan langsung dengan alquran, kita akan mendapati beberapa argumen mu’tazilah yang sangat jauh dari alquran. Dengan pondasi berfikir yang seperti itu membuat mereka menganggap alquran sebagia makhluk. Kenyataanya merekalah golongan yang pertama kali menggunakan metode kekerasan dalam islam dan mengkafirkan golongan lain yang berbeda pemikiran dengan mereka. Citra  buruk seperti ini tidak pernah muncul dalam dunia islam sebelumya kecuali oleh Khawarij. Setelah kalahnya pemkiran Mu’tazilah ditangan pemikiran islam sunni yang moderat munculah ilmu-ilmu  yang sangat beragam dan berkembanglah budaya keilmuan islam.

Sebagaimana perbedaan pemikiran antara Washil dan gurunya Hasan Basri, Imam abu hasan alasy’ari (260-330 H) juga berbeda pendapat dengan guru beliau Abu ‘ali al jabai (235-303) tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan Mu’tazilah yaitu kewajiban allah SWT untuk memberikan yang terbaik dan lebih baik lagi kepada para hambanya. Setelah Imam alasy’ari menilisik kebelakang mengenai pemikiran-pemikiran Mu’tazilah maka beliau menolak pemikiran mereka dan meninggallkan ide-ide Mu’tazilah. Beliau juga mengatakan bahwa ia bertemu dengan rosulullah SAW dalam mimpi sebanyak tiga kali dan baginda nabi SAW memintanya agar Imam abu hasan alasy’ari menyelamatkan risalah beliau. Beliaupun selalu waspda terhadap gerakan-gerakan baru Mu’tazilah, Asy’ari membuat terobosan baru dengan mengambil jalan tengah dalam berakidah (tidak condong terhadap pemikiran kanan dan kiri), tidak membuat propaganda terhadap ayat-ayat tuhan untuk menunjang pemikiranya, beliau juga tidak terkungkung dengan teologi mu’tazilah yang mengedepankan akal daripada teks otentik alquran Dengan dobrakan pemikiran baru tersebut, Imam asy’ari dan varian teologinya  berhasil manarik perhatian umat muslim dan berkembang sangat pesat hingg buku-buku dan pemikiranya berhasil diterima ulama di seantero dunia.

Beberapa ulama terkenal yang mengikuti pemikiran teologi Imam asy’ari adalah diantaranya :

v  Imam abu bakar albaqilani ( W 403 H ).

v  Imam abdul qohir albaghdadi ( W 429 H ).

v  Imam haromain aljuwaini ( W 478 H ).

v  Imam abu hamid alghozali ( W 505 H ).

v  Imam fakhrurozzi ( W 606 H).

v  Imam nasirudin albaidlawi ( W 685 H ).

v  Imam sangidudin alibji ( W 756 H).

v  Imam ibnu hajar al’asqolani ( W 852 H).

Bersamaan dengan itu muncul  pula sebuah  madzhab teologi yang sangat mirip dengan teologi ‘asyari  yaitu madzhab maturidiah yang dipelopori oleh imam abu Mansur almaturidi (W 332 H). Madzhab ini muncul dan berkembang pertama kali dikawasan negara timur. Beberapa karya beliau : almaqolat, attauhid, attakwilat fitafsiril quranilkarim, dan kitabu bayani wahum almu’tazilah. Imam abu Mansur banyak menelaah kitab-kitab literatur dari imam abu Hanifah rahimahullah.

Berawal dari pemikiran keduanya yang cenderung bahkan beradi melepaskan diri dari cengkeraman ideologi mu’tazilah  membuat kedua mazdhab tersebut berkembang dengan sangat pesat dan menarik perhatian umat muslim. Para ulama menyebut kedua madzhab ini dengan sebutan madzhab ahlussunnah waljama’ah.

Demikianlah pemaparan singkat tentang perkembangan sejarah ilmu tauhid dan beberapa aliranya, semoga bermanfaat dan mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan dan kekurangan.


[1] Makalah ini ditulis oleh Attabik Hasan Ma’ruf, mahasiswa Al Azhar fakultas Ushuluddin Kairo pada jeda liburan musim panas Kairo 2010.